7.11.10

Kenapa Bodoh Sangat?



Da'ie Sebagai Pendengar yang Baik


"Kenapa bodoh sangat? Mereka lebih percaya kepada puak-puak munafik itu daripada diriku," kata seorang kenalan.Membuta-tuli. Memegang kepalanya menandakan dirinya mempunyai masalah.


Aku menghampirinya. 


"Kenapa akhi?," tanyaku.


"Ana pening kepala akh memikirkan masalah ana ni. Banyak fitnah dan tohmahan yang dikenakan kepada diri ana ketika ini.Ramai pulak yang bodoh, percaya dengan khabar angin ini," ujarnya.


"Fitnah apa? Tohmahan apa?," ujarku sambil menenangkannya.


"Pasal wanita. Pasal janji. Konon-kononnya ana ada couple dengan seorang perempuan ni lah, ana dikaitkan dengan perempuan inilah. Janji tak tepatilah. Macam-macam," terang beliau.


"Jadi, adakah semua tuduhan terhadap enta tadi tidak benar?," soalku.


"Akhi, ana pun manusia biasa. Lakukan juga kesilapan. Namun, takdelah sampai ana bercouple-couple ni. Pasal janji tu, ana akui ana lupa. Ana pun manusia biasa," terang beliau.


"Akhi, sabarlah. Inilah dugaan kuat bagimu. Usahlah berduka. Janji Allah adalah segala-galanya," terangku kepadanya.


Aku menggeleng-gelengkan kepala mengenangkan nasib yang menimpa sahabatku ini. Seorang yang thiqah atas ilmu agamanya, dipercayai dan dihormati oleh masyarakat kampus.

Namun, ada juga orang yang mahu bermusuh dengannya. 




Berita Daripada Orang Fasik


Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Al-Hujurat : 6)
Ayat di atas menjelaskan satu kejadian di zaman Nabi. Ketika itu Al Harits menghadap Nabi. Dan Nabi mengajaknya masuk ke dalam Islam. Al Harits pun bersyahadah masuk ke dalam Islam. Nabi mengajaknya untuk membayar zakat.
Al Harits menyanggupinya dan berkata: “Ya Rasulullah, aku akan pulang kepada kaumku dan mengajak mereka masuk Islam dan membayar zakat. Aku akan mengumpulkan zakatnya. Jika telah tiba waktunya, kirimlah utusan untuk mengambil zakat.”
Akhirnya Nabi mengutus Al Walid bin ‘Uqbah untuk mengambil zakat pada Al Harits. Namun sebelum sampai di tempat, Al Walid takut dan akhirnya pulang dan memberi laporan palsu pada Nabi. Katanya Al Harits tidak mau membayar zakat bahkan mengancam akan membunuhnya.
Kemudian Nabi mengirim utusan yang lain untuk menemui Al Harits guna memeriksa kebenaran berita itu. Di tengah perjalanan, utusan tersebut bertemu Al Harits  beserta sahabatnya yang sedang pergi untuk menemui Nabi. Al Harits bertanya kepada utusan itu: “Kepada siapa kamu diutus?”
Utusan itu menjawab: “Kami diutus kepadamu.”
Al Harits bertanya: “Mengapa?”
Mereka menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengutus Al Walid bin ‘Uqbah. Namun ia berkata bahwa engkau tidak mau membayar zakat dan bahkan ingin membunuhnya.”
Al Harits berkata: “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad, aku tidak melihatnya. Tidak ada yang datang kepadaku.”
Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah SAW, bertanyalah beliau: “Mengapa engkau tidak mau membayar zakat dan ingin membunuh utusanku?”
Al Harits menjawab: “Demi Allah yang mengutus engkau dengan sebenar-benarnya. Aku tidak berbuat demikian.” Maka turunlah ayat Al Hujuraat:6 sebagai peringatan kepada kaum mukminin agar tidak mempercayai satu berita secara sepihak tanpa memeriksanya kepada kaum yang dituduh. (HR Ahmad).
Begitu juga yang terjadi kepada sahabatku itu. Perkara yang sama terjadi. Perselisihan faham dalam menaggapi sesuatu permasalahan yang timbul dijadikan sebagai hujah untuk mengenepikan haknya untuk menikmati nama yang suci dan bersih daripada segala tohmahan dan cacian.
Tambah-tambah berita itu disampaikan oleh orang yang fasik -  orang yang  menyaksikan tetapi tidak meyakini dan melaksanakan (al-Jurjani, At-Ta’rîfât. I/211). Sedangkan al-Manzhur lebih lanjut menjelaskan bahwa fasik (al-fisq) bermakna maksiat, meninggalkan perintah Allah, dan menyimpang dari jalan yang benar. Fasik juga berarti menyimpang dari agama dan cenderung pada kemaksiatan; sebagaimana iblis melanggar (fasaqa) perintah Allah, yakni menyimpang dari ketaatan kepada-Nya. Allah Swt. berfirman:

فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

Mereka kemudian berbuat fasik terhadap perintah Tuhannya. (QS al-Kahfi [18]: 50).
Dalam ayat di atas, frasa berbuat fasik terhadap perintah Tuhannya artinya keluar dari ketaatan kepada-Nya.
Fasik juga berarti keluar dari kebenaran (al-khurûj ‘an al-haqq). Karena itu, fasik kadang-kadang berarti syirik dan kadang-kadang berarti berbuat dosa. Seseorang dikatakan fasik (fâsiq/fasîq) jika ia sering melanggar aturan/perintah. Fasik juga berarti keluar dari sikap istiqamah dan bermaksiat kepada Tuhan. Karena itu, seseorang yang gemar berbuat bermaksiat (al-‘âshî) disebut orang fasik (ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, 10/38).
Ana berfikir kembali nama-nama orang yang menyebarkan tohmahan terhadap sahabatku itu tadi - antaranya top-10 couple dalam kampus, istiqamah menangguh-nagguhkan solat, istiqamah 'subuh gajah', sentiasa menyakiti hati teman-teman dan sentiasa mengumpat dan merendah-rendahkan orang lain.
Maka, antara si fasik dengan teman yang mungkin terkhilaf, mana satu anda lebih percayai?






Mengumpat Tanpa Hak
Mengumpat ialah menceritakan, menyebut keburukan atau kekurangan seseorang kepada orang lain yang dilakukan sama ada disedari atau tidak.
Perbuatan itu termasuk apabila menyebut atau menceritakan keburukan biarpun tanpa menyebut nama pelakunya tetapi diketahui orang yang mendengarnya. Rasulullah menjelaskan mengenai mengumpat dalam sabdanya, bermaksud,


“Mengumpat itu ialah apabila kamu menyebut perihal saudaramu dengan sesuatu perkara yang dibencinya” (Hadis Muslim).
Memandangkan betapa buruk dan hinanya mengumpat, ia disamakan seperti memakan bangkai saudara seagama. Manusia waras tidak sanggup memakan daging manusia, inikan pula daging saudara sendiri.
Dosa mengumpat bukan saja besar, malah antara dosa yang tidak akan diampunkan Allah biarpun pelakunya benar-benar bertaubat. Ia hanya layak diampunkan oleh orang yang diumpat. Selagi orang yang diumpat tidak mengampunkan, maka dosa itu akan kekal dan menerima pembalasan di akhirat. Disebabkan mengumpat terlalu biasa dilakukan, maka ia tidak dirasakan lagi sebagai satu perbuatan dosa.
Sabda Rasulullah,


“Wahai orang beriman dengan lidahnya tetapi belum beriman dengan hatinya. Janganlah kamu mengumpat kaum Muslim, dan janganlah kamu mengintip-intip keaiban. Sesungguhnya, sesiapa yang mengintip keaiban saudaranya, maka Allah akan mengintip keaiban, dan dia akan mendedahkannya, meskipun dia berada dalam rumahnya sendiri” (Hadis Abu Daud).
Orang yang mengumpat akan mendapat kerugian besar di akhirat. Pada rekod amalan mereka, akan dicatatkan sebagai perbuatan menghapuskan pahala.
Sabda Rasulullah bermaksud,


“Perbuatan mengumpat itu samalah seperti api memakan ranting kayu kering”. Pahala yang dikumpulkan sebelum itu akan musnah atau dihapuskan seperti mudahnya api memakan kayu kering sehingga tidak tinggal apa-apa lagi. Diriwayatkan Abu Ummah al-Bahili, di akhirat seorang terkejut besar apabila melihat catatan amalan kebaikan yang tidak pernah dilakukannya di dunia.

Maka, dia berkata kepada Allah, “Wahai Tuhanku, dari manakah datangnya kebaikan yang banyak ini, sedangkan aku tidak pernah melakukannya”. Maka Allah menjawab, “Semua itu kebaikan (pahala) orang yang mengumpat engkau tanpa engkau ketahui”.
Sebaliknya, jika pahala orang yang mengumpat tidak ada lagi untuk diberikan kepada orang diumpat, maka dosa orang yang diumpat akan dipindahkan kepada orang yang mengumpat. Inilah dikatakan orang muflis di akhirat nanti.




Nasihat Buat Teman


"Akhi. Bersabarlah. Inilah dugaan enta untuk mematangkan lagi diri enta dalam kehidupan ini. Tambah-tambah kita antara orang yang sudi menyahut seruan Allah untuk berdakwah melalui jemaah ini,"


"Ana kemukakan satu hadith sebagai penguat semangat enta," kataku tersenyum. 


Aku membacakan hadith tersebut.


"Senantiasa ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah," (H.R. Muslim).


"Maka, ana pasti, ana dan enta adalah antara golongan yang Nabi s.a.w. maksudkan dalam hadith tersebut. Bersabarlah," kataku menepuk bahunya.


Dia pun tersenyum.


"Syukran," akhirnya bingkas bangun mengambil wudhu' dan kemudian menunaikan solat sunat 2 rakaat.


"Betapa bodohnya mereka yang percaya akan sesuatu berita tanpa mengkaji secara mendalam kebenaran berita tersebut. Sesuatu beritu itu perlulah datang daripada sumber yang sahih" 
(az-Za'faraniy)

3 comments:

Abu Umawiy az-Za'faraniy said...

Kisah benarku dalam perjuangan dakwah.

Dx said...

salam akh.....

tidak semua manusia mampu manulis seperti penulis ....

tidak semua manusia mampu berkata seperti pemidato...

namun apa yang tertulis dan kata2x itu, jika dari hatinya kerana Allah...

cahaya Allah akan menggegarkan hati2x yang gelap itu...

itulah sunnatullah

Abu Umawiy az-Za'faraniy said...

InsyaAllah. Moga segalanya kerana Allah taala.